• Kampus Penelitian Pertanian Jl. Tentara Pelajar No.3C
  • (0251) 7565366
  • [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • Rencana Strategis
      • DIPA
      • RKAKL/ POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Standar Operasional Prosedur
      • Daftar Informasi Dikecualikan
      • Kerjasama
  • Publikasi
    • Buku
    • Pedum/ Juknis
    • Infografis
    • Jurnal Hortikultura
      • Jurnal Hortikultura 2021
      • Jurnal Hortikultura 2022
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Layanan
Thumb
55 dilihat       16 Februari 2026

Menanam Kembali ‘Akar’ Penelitian Pertanian

Jika beras adalah kisah tentang keberhasilan akselerasi, bawang putih adalah narasi tentang perjuangan melawan struktur ketergantungan selama tiga dekade. Volume impor bawang putih Indonesia saat ini mendekati angka 100 persen, didominasi oleh satu negara: China.

Namun, defisit produksi hanyalah gejala. Luka yang lebih dalam justru terletak pada tergerusnya kapasitas riset terapan nasional pascasentralisasi.

Dalam konteks bawang putih, swasembada bukan semata-mata persoalan membagikan benih gratis. Ini adalah soal siapa peneliti-nya, di mana lokasi penelitian dilakukan, dan sejauh mana riset tersebut menyatu dengan kebutuhan petani di lahan ekstrem.

Dr. Inti Pertiwi Nashwari, S.P, M.Si, Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura (BRMP Hortikultura) Kementerian Pertanian (Kementan), bahkan menjabarkan bahwa bawang putih adalah komoditas dengan karakteristik yang cukup ‘rewel’.

“Bawang putih itu perlu lokasi dingin, tapi penyinarannya maksimal, penyinaran mataharinya. Karena dia pengumbian. Makanya kayak Temanggung itu kan daerah dataran tinggi tapi panas, penyinaran mataharinya cukup terik. Itulah makanya bawang putih ini perlu kita identifikasi, kita mapping di lokasi mana saja yang punya karakteristik iklim seperti itu,” papar Dr. Inti.

Teknologi dari Kaki Rinjani: AWS dan Harapan Off-Season

Sembalun, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi bukti nyata bahwa penerapan teknologi hasil riset mampu mengatasi tantangan alam. Kuncinya adalah kolaborasi cerdas. Kementan menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memasang menara Automatic Weather System (AWS) langsung di area pertanaman bawang putih.

Marjuki, Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, menceritakan awal mula kerja sama ini yang sempat mengejutkan pihaknya karena data ketergantungan impor yang sangat tinggi.

“Kami waktu itu diskusi dengan Bu Inti agak kaget juga bahwa 95 persen bawang putih kita itu impor. Kami menawarkan untuk memasang AWS di lahan bibit tersebut. Bagaimana kita bisa memanfaatkan data AWS itu yang sifatnya adalah lokal untuk pertanian cerdas ke depan,” paparnya.

Berbekal data historis dari AWS, Dr. Inti berani melakukan pertaruhan besar dengan melakukan uji coba tanam di luar musim (off-season).

“Di Indonesia pertanaman itu baru 1 kali dalam setahun (Maret-Agustus). Saya berani berisiko menggunakan anggaran untuk uji coba off-season di Sembalun. Semua orang pesimis, tapi hasilnya ternyata bisa hampir menyamai yang on-season,” ungkapnya bangga. Panen off-season ini mampu mencapai 80 persen dari panen normal, sebuah lompatan yang membuat target swasembada menjadi sangat rasional.

Inovasi tidak berhenti di sana. Sam Herodian menambahkan bahwa kolaborasi riset hulu sedang dijalin dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk memperpendek masa dormancy benih bawang putih menggunakan teknologi Ultrafine Bubble. Jika masa dormancy bisa dipangkas dari 6 bulan menjadi jauh lebih singkat, maka siklus tanam nasional bisa dipercepat secara masif.

“Saya sudah mengundang Profesor dari IPB. Dia sudah bisa memperpendek dormansi. Jadi kalau panen kan tidak bisa langsung ditanam lagi. Supaya bagus didorman-kan dulu selama 6 bulan, baru ditanam. Nah, berdasarkan penelitian yang ada di IPB, saya sudah wawancara profesornya, dengan teknologi ultrafine bubble namanya itu bisa memperpendek dormansi. Jadi artinya bisa dipercepat nih swasembada (bawang putih),” pungkasnya dengan nada optimistis.

Koreksi Kebijakan: Peneliti “Pulang Kampung”

Optimisme di lapangan ini mendapat dukungan dari perubahan kebijakan. Bersamaan dengan hari pahlawan tahun 2025, Kepala BRIN baru, Arif Satria, membuat gebrakan dengan memperbolehkan peneliti yang berminat, untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Keputusan ini dianggap sangat humanis dan strategis bagi pemulihan ekonomi daerah.

Disambut hangat, keputusan ini membuahkan sekitar 10 karangan bunga dari para peneliti, yang mengucapkan terimakasih kepada pimpinan baru. Simbol rasa bahagia itu diletakkan depan lobi Gedung BRIN Gatot Subroto.

“Kita harapkan para peneliti bisa kemudian memanfaatkan aset tersebut untuk melakukan riset-riset di daerah, untuk membangun daerah, kemudian yang paling penting lagi adalah memperkuat ekonomi daerah dengan riset-riset inovasi yang ada,” kata Arif seperti dikutip Republika, Senin (1/12/2025).

Firman Noor, peneliti BRIN, mengamini hal itu. Menurutnya ini merupakan keputusan humanis yang baik untuk ke depannya.

“Saya kira itu satu pendekatan yang lebih humanis ya sebetulnya. Karena sebelumnya ada peneliti yang memang harus ada di Jakarta, berpisah dengan keluarga,” tuturnya.

Keputusan ini juga disambut baik oleh Kementerian Pertanian. Staf khusus menteri bidang kebijakan, Sam Herodian berharap, ke depan dapat dimulai lagi penelitian-penelitian yang fokus di daerah masing-masing.

“Efek untuk Kementan pasti ada. BRMP itu kan ada di seluruh Indonesia. Nah dulu mereka (peneliti BRIN, red) adalah bagian dari kita di seluruh Indonesia. Ada hal penting terkait kebijakan, yakni BRIN di daerah. Kan semuanya dikembalikan ke pusat. Nah di daerah yang tadinya ada peneliti, hilang semua. Dengan kebijakan yang baru, boleh kembali, itu udah lumayan lah. Nanti kita bisa kembalikan lagi penelitian itu ke daerah. Ini adalah awal yang bagus,” paparnya optimistis.

Seolah gelombang, kabar baik muncul berurutan. Kepala BRMP, Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si mengabarkan kepada BataviaPos, Minggu (15/2/2026) bahwa mulai tahun ini, Kementerian Pertanian menjadi satu-satunya Kementerian yang boleh melakukan penelitian di luar BRIN, melalui BRMP.

“Jadi satu-satunya Kementerian/Lembaga yang diperbolehkan melakukan penelitian pengembangan Mulai tahun ini Adalah BRMP. Meskipun namanya belum bisa menggunakan kata penelitian atau pengembangan karena masih ada BRIN, tapi secarade jure de facto sudah dibolehkan melakukan penelitian pengembangan. Jadi mulai tahun ini kita melakukan penelitian pengembangan Menghasilkan varietas menghasilkan teknologi dan lain-lainnya,” paparnya.

Langkah ini segera ditindaklanjuti dengan pembagian porsi riset yang rasional antara BRIN dan Kementan (BRMP) dengan skema yang disepakati bersama. Sam Herodian memaparkan proses berkumpulnya rekan dari BRMP, Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) dan BRIN untuk menyepakati skema tersebut.

“Waktu itu sudah saya sampaikan, untuk penelitian yang di sektor hulu silakan dilakukan oleh teman-teman BRIN. Jadi, 80 persen anggaran penelitian untuk BRIN, tapi 20 persennya harus melibatkan orang-orang Kementan. Karena kenapa, kita kan user. Paling tahu untuk apa penelitian itu kan. Seiring waktu ketika sudah ada di ujung (hilir) maka 80 persen (penelitian) ada di teman-teman BRMP. Waktu itu sudah sepakat semua, kita salaman semua, oke. DJA juga sudah menyepakati skema ini,” papar Sam.

Menanam Kembali ‘Akar’ yang Sempat Tercerabut

Kesepakatan pembagian riset hulu dan hilir itu mungkin terdengar teknokratis. Namun sesungguhnya, ia menandai sesuatu yang jauh lebih mendasar: pengakuan bahwa riset pertanian tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari kementerian teknis dan dari lapangan tempat pangan itu tumbuh.

Pengalaman swasembada beras membuktikan satu hal: ketika peneliti kembali dekat dengan pengambil kebijakan dan petani, percepatan menjadi mungkin. Bawang putih—dengan seluruh kompleksitas benih, dormancy, dan kebutuhan uji multilokasi—menjadi ujian berikutnya. Ujian yang tidak hanya mengukur kecanggihan teknologi, tetapi juga keberanian negara untuk mengoreksi desain kebijakannya sendiri.

Kebijakan peneliti boleh kembali ke daerah, dibukanya ruang riset di BRMP, serta skema kolaborasi antara BRIN dan Kementerian Pertanian, menunjukkan bahwa sentralisasi tidak harus berakhir pada kebuntuan. Ia bisa dikoreksi, dilenturkan, dan disesuaikan dengan realitas sektor yang ditanganinya.

Di kaki Gunung Rinjani, di lahan-lahan dingin Sembalun, riset kembali menemukan rumahnya. Bukan di menara gading, melainkan di ladang, di antara petani, dan di tengah risiko gagal panen yang nyata. Di sanalah teknologi off-season diuji. Di sanalah ultrafine bubble dicoba. Dan di sanalah makna swasembada diuji—bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kerja panjang.

Sentralisasi pernah mencabut peneliti dari akarnya. Kini, melalui koreksi kebijakan dan kerja lintas lembaga, akar itu perlahan ditanam kembali. Jika negara konsisten menjaga arah ini, swasembada bawang putih bukan lagi utopia. Ia menjadi soal waktu, ketekunan, dan keberanian untuk terus membiarkan riset tumbuh di tanahnya sendiri.

Penulis: Ella Effendi
Reviewer: susi susanti
 
Sumber: https://bataviapos.id/insight/menanam-kembali-akar-penelitian-pertanian/
Prev Next

- BRMP Hortikultura


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    Menjaga Sentuhan Lapangan: Dilema Sosial Budaya dalam Reformasi Riset Pertanian Nasional
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Ketika Bawang Putih Menyingkap Nasib Para Peneliti yang Terombang-ambing
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Patahkan Stigma Petani Jorok dan Miskin, Kunci Regenerasi di RI
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Jejak Keemasan Balitbang Kementan: Antara Integrasi dan Harapan Riset yang Membumi
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura

tags

BRMP BRMP Hortikultura Kementerian Pertanian Swasembada Pangan

Kontak

(0251) 7565366
(0251) 7565366
[email protected]

Kampus Penelitian Pertanian
Jl. Tentara Pelajar No.3C, RT.01/RW.15,
Menteng, Bogor Barat, Bogor City,
West Java 16111

www.hortikultura.pertanian.go.id

© 2025 - 2026 Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura. All Right Reserved